Jumat, 08 November 2013

Pendahuluan : Etika sebagai Tinjauan

1.        Pengertian Etika
Kita sebagai manusia diciptakan Tuhan untuk saling berinteraksi satu sama lain karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial. Hubungan sosial ini tentunya diperlukan suatu batasan diri untuk menjaga segala sikap dan perbuatan agar menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Salah satu hal yang dapat mengontrol tingkah laku manusa adalah dengan etika. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan. Etika merupakan salah satu cabang ilmu filsafat oksiologi membahas bidang etika yaitu tentang nilai keutamaan dan bidang estetika, nilai – nilai keindahan serta pemilihan nilai – nilai kebaikan.
Dapat kita simpulkan dari pernyataan yang dikemukakan sebelumnya bahwa etika merupakan cara bergaul atau berperilaku yang baik. Nilai – nilai etika tersebut dalam suatu organisasi dituangkan dalam aturan atau ketentuan hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis. Aturan ini mengatur bagaimana seseorang harus bersikap atau berperilaku ketika berinteraksi dengan orang lain di dalam suatu organisasi dan dengan masyarakat di lingkungan organisasi tersebut. Cukup banyak aturan dan ketentuan dalam organisasi yang mengatur struktur hubungan individu atau kelompok dalam organisasi serta dengan masyarakat di lingkungannya sehingga menjadi kode etik atau pola perilaku anggota organisasi bersangkutan.

a.         Fungsi Etika
Etika memiliki fungsi yang sangat penting karena peranannya yang besar sabagai alat control diri kita. Adapun fungsi – fungsi dari etika adalah sebagai berikut :
ü  Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan berbagai moralitas yang membingungkan.
ü  Etika ingin menampilkan ketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.
ü  Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralism.
b.        Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika
Sebagai makhluk manusia tentunya kita tidak luput dari pelanggaran etika meskipun tidak kita sadari. Sifat manusia yang terkadang tidak terkendali menyebabkan kita melanggar etika yang sebenarnya kita sadar bahwa apa yang kita lakukan melanggar etika. Dibawah ini merupakan faktor – faktor yang mempengaruhi seseorang melanggar etika, yaitu :
ü  Kebutuhan Individu
ü  Tidak Ada Pedoman
ü  Perilaku dan Kebiasaan Individu Yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi
ü  Lingkungan Yang Tidak Etis
ü  Perilaku Dari Komunitas
c.         Sanksi Pelanggaran Etika
ü  Sanksi Sosial : Skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yang dapat ‘dimaafkan’.
ü  Sanksi Hukum : Skala besar, merugikan hak pihak lain.

2.        Prinsip – Prinsip Etika
Etika memiliki prinsip – prinsip yang mendasari etika sebagai ilmu yang mengajarkan nilainilai kebenaran. Prinsip – prinsip etika tersebut adalah :
a.         Prinsip Keindahan
Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Berdasarkan prinsip ini, manusia memperhatikan nilai – nilai keindahan dan ingin menampakkan sesuatu yang indah dalam perilakunya. Misalnya dalam berpakaian, penataan ruang, dan sebagainya sehingga membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja.
b.        Prinsip Persamaan
Setiap manusia pada hakikatnya memiliki hak dan tanggung jawab yang sama, sehingga muncul tuntutan terhadap persamaan hak antara laki – laki dan perempuan, persamaan ras, serta persamaan dalam berbagai bidang lainnya. Prinsip ini melandasi perilaku yang tidak diskrminatif atas dasar apapun.
c.         Prinsip Kebaikan
Prinsip ini mendasari perilaku individu untuk selalu berupaya berbuat kebaikan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip ini biasanya berkenaan dengan nilai – nilai kemanusiaan seperti hormat – menghormati, kasih sayang, membantu orang lain, dan sebagainya. Manusia pada hakikatnya selalu ingin berbuat baik, karena dengan berbuat baik dia akan dapat diterima oleh lingkungannya. Penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sesungguhnya bertujuan untuk menciptakan kebaikan bagi masyarakat.
d.        Prinsip Keadilan
Pengertian keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya mereka peroleh. Oleh karena itu, prinsip ini mendasari seseorang untuk bertindak adil dan proporsional serta tidak mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain.
e.         Prinsip Kebebasan
Kebebasan dapat diartikan sebagai keleluasaan individu untuk bertindak atau tidak bertindak sesuai dengan pilihannya sendiri. Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi manusia, setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak – hak orang lain. Oleh karena itu, setiap kebebasan harus diikuti dengan tanggung jawab sehingga manusia tidak melakukan tindakan yang semena – mena kepada orang lain. Untuk itu kebebasan individu disini diartikan sebagai :
ü  kemampuan untuk berbuat sesuatu atau menentukan pilihan
ü  kemampuan yang memungkinkan manusia untuk melaksanakan
pilihannya tersebut
ü  kemampuan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
f.          Prinsip Kebenaran
Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil pemikiran yang logis/rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh individu dan masyarakat. Tidak setiap kebenaran dapat diterima sebagai suatu kebenaran apabila belum dapat dibuktikan.

Semua prinsip yang telah diuraikan itu merupakan prasyarat dasar dalam pengembangan nilai – nilai etika atau kode etik dalam hubungan antar individu, individu dengan masyarakat, dengan pemerintah, dan sebagainya. Etika yang disusun sebagai aturan hukum yang akan mengatur kehidupan manusia, masyarakat, organisasi, instansi pemerintah, dan pegawai harus benar – benar dapat menjamin terciptanya keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran bagi setiap orang.

3.        Basis Teori Etika
Basis teori etika dibagi menjadi 4 macam, yaitu :
a.         Etika Teleologi.
Istilah teleologi berasal dari bahasa Yunani, telos yang artinya adalah tujuan, di mana etika teleologi mengandung arti mengenai mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut. Terdapat 2 aliran etika teleologi yaitu :
ü  Egoisme Etis
Egoisme etis memiliki pandangan bahwa tindakan dari setiap manusia pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Satu – satunya tujuan tindakan moral kita sebagai manusia adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya. Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika cenderung menjadi hedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata – mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.
ü  Utilitarianisme
Utilitarianisme yang berasal dari bahasa Latin, utilis yang berarti bermanfaat, memiliki pandangan bahwa suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja  satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Dalam rangka pemikiran utilitarianisme, kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar (the greatest happiness of the greatest number).
b.        Deontologi
Istilah dentologi berasal dari bahasa Yunani, deon yang berarti kewajiban, di mana yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan kita sebagai manusia adalah kewajiban. Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang juga merupakan salah satu teori etika yang terpenting.
c.         Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini, teori hak adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi  baik buruknya  suatu perbuatan atau perilaku manusia. Teori Hak merupakan suatu aspek  dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis.
d.        Teori Keutamaan (Virtue)
Dimana mengandung arti  memandang  sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya. Keutamaan bisa didefinisikan  sebagai disposisi watak  yang telah diperoleh  seseorang dan memungkinkan  dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Contoh keutamaan adalah kebijaksanaan, keadilan, suka bekerja keras, dan hidup yang baik.

4.        Egoisme
Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri ditengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat. Istilah lainnya adalah "egois". Lawan dari egoisme adalah altruisme. Hal ini berkaitan erat dengan narsisme, atau "mencintai diri sendiri," dan kecenderungan mungkin untuk berbicara atau menulis tentang diri sendiri dengan rasa sombong dan panjang lebar. Egoisme dapat hidup berdampingan dengan kepentingannya sendiri, bahkan pada saat penolakan orang lain. Sombong adalah sifat yang menggambarkan karakter seseorang yang bertindak untuk memperoleh nilai dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang ia memberikan kepada orang lain. Egoisme sering dilakukan dengan memanfaatkan altruisme, irasionalitas dan kebodohan orang lain, serta memanfaatkan kekuatan diri sendiri dan / atau kecerdikan untuk menipu. Egoisme berbeda dari altruisme, atau bertindak untuk mendapatkan nilai kurang dari yang diberikan, dan egoisme, keyakinan bahwa nilai – nilai lebih didapatkan dari yang boleh diberikan. Berbagai bentuk "egoisme empiris" bisa sama dengan egoisme, selama nilai manfaat individu diri sendirinya masih dianggap sempurna.

Sumber :

Jumat, 05 Juli 2013

Pekalongan’s Batik


Born from a family that has a genuine pedigree Javanese batik making me tied to a very young age. Father came from Ngawi being mother was born and raised in Pekalongan. The second city is city representation batik long ago. Therefore, I was never in short supply of batik to be used up to now because the parents always took time to add to the collection of batik when there is a chance. One was when our family to return home during Lebaran.

In everyday life, I am more than happy to use batik shirt. I was lucky enough company where I work freeing employees to wear underwear everyday. Of course this makes me more flexibility to use batik to the office almost every day. Not necessarily on Thursday as most regulations in other companies. 
Prior to joining the company where I work now, I am grateful to be given the opportunity to teach elementary school children in remote South Halmahera, North Maluku province for one year. Any limitations make life there is arguably too simple.
Their everyday clothes like most people, just a T-shirt and cotton pants. People there do not have the typical clothes commonly used in everyday life such as the sheath is often used by the people in the Papua region.
Not a lot of migrants who live in the Halmahera Sea coastal village. Most immigrants did not come away from the area around the island of Halmahera. Javanese people who live in the village can be counted on the fingers. Most of them do not settle for work as a traveling salesman. In other words, I was the only one native Javanese descent who live there.
Every time teaching, I often wear batik. Because no civil official clothes like other teachers, I have a bit of freedom in wearing formal attire in teaching. Since I took quite a lot of stock batik as stock, would not be a problem to keep changing clothes every day teaching.
On the other hand, I would like to introduce batik to all audiences village. I'm sure they've heard what it was but to invite their loved batik batik is certainly not easy and it took a gradual process.
One way to introduce batik I did was to put on batik material in the class. One time, I took the topic of Indonesian batik in teaching cultural themes for their own country. The children were enthusiastic to find out what it is batik with batik clothing pointing me at that time.
Incidentally a few years ago, where I teach elementary school never got batik uniforms for the students with the help of the government. But the amount is not sufficient all students. Until now, a small portion of students are berbatik every Thursday. But most of the others do not get that uniform. Moreover, many children batik uniforms that have been worn and torn up to be unsuitable for use again.
Then, I suggested to the principal to take advantage of the school's budget in facilitating children's batik uniforms. With no batik shop around town in South Halmahera district, we must order direct to fabric printing from the Javanese batik. At that moment, there is no online batik shop which facilitate ordering and shopping to the manufacture and delivery of uniforms batik children require a long time.
For teachers, I took the initiative to make their own uniforms with asking for help Mom. Mother does have a batik boutique business in a small house. When I expressed the intention to assist the teachers in the village, she immediately made welcome and chic batik designs.
After waiting for about a month, batik uniforms awaited finally came. Docked boat carrying a large cardboard shipment of Java.
When finally batik uniforms to school, the whole school community excited to try. Enthusiastic kids get their new uniforms batik. So are the teachers who praised batik designs created by Mother. Batik for teachers is not made with a canting, but it certainly does not diminish the beauty of batik patterns themselves.
There is also, I bought a batik for the care of my family in the village. One package of batik uniform for all members of the family and some batik special night for my foster mother. For them, given batik may be the best clothes they have.
Same with batik patterns, they become the only family that has a batik uniform at our village. How nice to see them as expressions of happiness together berbatik when Eid arrives.
Batik has now become an integral part of school life in our village. All school members routinely wear batik on Thursday. Uniformity is not only beautiful in the eye, but also gives its own spirit to live a conducive learning and fun. 
Some residents have also slowly started using batik as the official clothing during traditional ceremonies or official events arrive. This is certainly a very good start to teach you how to recognize, use, and love batik. Underneath it all, there is a significance that should be grasped. That batik is not only owned by Javanese culture per se, but actually belong to the nation Indonesian batik.


Sumber:

http://sosbud.kompasiana.com/2013/01/09/mengenalkan-batik-ke-pelosok-negeri-522774.html